Melirik ke masa lalu adalah satu-satunya cara yang paling ampuh untuk mengukur kesuksesan kita di masa kini. Kukatakan demikian bukanlah tanpa sebab. Disinilah, dua tahun silam, tempat terjadinya titik balik dalam hidupku. Kuteringat sosok pria tua yang telah membuka mataku untuk memahami rahasia kehidupan yang sebenarnya. Bahkan hingga kini pun aku tak tahu siapa pria itu sebenarnya.
Seminggu setelah pergantian tahun, kuputuskan berlibur ke pulau dewata. Jujur saja, saat itu kondisiku sedang galau. Sepanjang tahun lalu, hidup sepertinya hanya menawarkan kepahitan yang tak berkesudahan. Kedua orang tuaku meninggal, pacarku selingkuh, kakakku tak peduli denganku, dan bahkan kondisi di kantor pun sudah tak kondusif. Bisa kutarik kesimpulan bahwa dunia tengah memusuhiku.
Melarikan diri memang tak pernah menjadi sebuah solusi dari apapun permasalahan yang ada. Namun dalam kasusku, berlari dari kenyataan hidup adalah suatu keharusan. Aku butuh bernafas, tanpa memikirkan segalanya, barang sedetik saja. Dan Bali-lah satu-satunya tempat yang melintas dalam kepalaku.
Pulau ini bukanlah pulau yang asing bagiku. Setidaknya sekali dalam setahun aku berlibur kesini. Namun yang baru adalah kali ini aku berlibur seorang diri. Hari pertama kuawali dengan menjelajahi kawasan elite Nusa Dua. Pantai Nusa Dua tak akan pernah terasa membosankan bagiku. Tak seperti beberapa area turis di Bali yang padat pengunjung dan cenderung kotor, di lokasi ini semuanya tampak terawat. Bahkan di sepanjang ruas-ruas jalan yang kutapak, tak kulihat sampah berserakan di atas aspal atau pasir-pasir pantai. Belum lagi arsitektur bangunan dan pesona alam yang mempesona. Sungguh, sulit terungkap dalam kata-kata.
Ketika jam makan siang, aku singgah di Hong Xing; sebuah rumah makan klasik oriental di wilayah The Bay Bali. Sebenarnya aku tak terlalu suka Chinese food, tapi entah kenapa rasanya ada semacam medan magnet dari dalam rumah makan tersebut yang seakan terus menarikku masuk kesana. Alhasil, tak sampai lima belas menit, hidangan Mie Goreng ala Malaysia dan lime Squash telah tersaji cantik di atas meja kayu jati antik. Teriknya sang mentari tak terasa karena pepohonan-pepohonan rindang di atasku. Makan siang terasa lebih sempurna sembari memandangi laut tak berujung dihadapanku. Akibat suasana nyaman di Hong Xing, aku baru beranjak dari tempat duduk dan membayar ke kasir tiga jam kemudian. Waktu lewat tak terasa.
Beberapa saat ketika aku sedang duduk-duduk di pasir menatap hamparan biru yang nampak bagai serpihan berlian di atas air, seseorang duduk tiba-tiba di sampingku. Kulirik sosok pria tua yang tersenyum padaku. Entah dimana atau kapan persisnya, aku yakin pernah melihat pria ini sebelumnya. Namun tetap saja rasanya aneh bagiku menyadari pesisir pantai ini sangat luas tapi dia memutuskan duduk bersamaku. Tentu saja, dalam upaya beramah-tamah, aku tak mempersoalkan hal tersebut.
Tanpa melontarkan basa-basi sebagai pembuka percakapan, pria itu serta-merta memberitahu tentang bagaimana suasana di sepanjang pantai Nusa Dua ini menjelang detik-detik pergantian tahun sepekan lalu. Jujur saja, aku tak mau tahu hal itu. Aku hanya ingin duduk diam dan memikirkan permasalahan yang tengah kuhadapi. Alhasil, hanya anggukkan kepala kulakukan sebagai respon ceritanya. Kupikir jawaban demikian sudah cukup membuatnya pergi. Namun justru pria tua itu malah membakar rokoknya dan membuat dirinya senyaman mungkin, seakan bersiap-siap memulai percakapan yang lebih serius.
Tanpa memedulikan reaksi dinginku, dia mulai berbicara. Awalnya dia membicarakan bagaimana perubahan gaya hidup di Bali semenjak sepuluh tahun lalu dia menginjakkan kaki hingga kini. Saat itu aku masih memilih tak berkomentar. Pikirku, semakin sedikit bicara semakin dia menjadi bosan sendiri dan akhirnya meninggalkanku. Namun cerita pria itu malah jadi panjang. Dia mulai menceritakan momentum-momentum dalam hidupnya yang mengesankan.
Selama hampir setengah jam pria tua itu mengoceh tanpa kugubris, hingga ada perkataannya yang membuatku terisap masuk ke dalam gelembung transparan yang memisahkan kami berdua dengan dunia luar. Dia berkata, “Apapun yang saya lakukan akan saya nikmati semaksimal mungkin. Hidup ini cuma sekali, dan orang seumuran saya bisa mati kapan saja. Saya tidak mau menyia-nyiakan momen apapun yang ada di depan mata. Apapun yang mungkin terjadi besok, tidak akan terjadi sekarang. Begitulah pandangan saya tentang hidup. Saya selalu bersikap seolah-olah setiap hari adalah hari terakhir dalam hidup saya. Karena dengan begitu, saya akan melewatinya dengan penuh kenikmatan dan tanpa sesal.”
Perkataan itu membuatku teringat pada ibu. Ibu adalah tipikal orang yang tak mau pusing memikirkan masa depan. Dia tak pernah merencanakan hari-hari berikutnya. Apa yang dia lakukan mengalir begitu saja, cukup berpondasi kokoh pada apapun yang ada di sekelilingnya. Sedikit-banyak pemikiran ibu sama seperti pria tua ini. Mereka sama-sama berusaha menikmati apapun pemberian Tuhan di hari ini, tanpa mempersulit diri memikirkan ketidak-pastian di hari esok.
Aku mengerut sambil memeluk kedua lutut memikirkan ibu. Pria tua itu mengamati, dan bertanya, “Apa saya salah bicara? Ada perkataan saya yang menyinggungmu?”
“Oh, tidak. Saya cuma sedang berpikir,” jawabku menampilkan sikap sewajar mungkin.
“Dari pengalaman saya, berpikir bukan hal yang baik untuk dilakukan.”
“Kenapa begitu?”
“Baik, saya ambil contoh. Lihatlah sekelilingmu. Amati setiap hal yang bisa kau lihat. Suasana pantai, orang-orang lalu-lalang, tumbuh-tumbuhan yang penuh warna, anjing-anjing yang berlari-lari, bocah-bocah yang bermain air dengan riang. Lalu dengarkanlah sekelilingmu. Suara desiran air, alunan musik dari restoran-restoran, teriakan gembira anak kecil, gonggongan anjing-anjing. Kemudian rasakan dan hiruplah sekelilingmu. Panas matahari yang membasuh kulit, bau harum masakan dan wewangian yang dipakai orang-orang, lembutnya pasir-pasir ini.”
Seperti terhipnotis perkataannya, kuamati sekelilingku. Entah sudah berapa lama aku duduk di sana sejak tadi, tapi aku baru sadar betapa padat pantai ini menjelang petang. Suara ricuh orang-orang dan segala jenis bau-bauan bercampur aduk. Rasanya seperti ada sesuatu yang menyumbat panca indera-ku sejak tadi, dan kini baru terbuka.
“Kadang saat kita sedang berpikir, di luar sadar justru kita melewatkan hal-hal yang seharusnya bisa kita nikmati,” lanjut pria tua itu.
“Tapi bukannya segala sesuatu perlu dipikirkan agar kita tidak salah langkah?”
Pria itu lantas merenung, nampak tengah mengilas balik waktu. Asap-asap putih mengepul dan mengerubungi wajahnya. “Waktu saya masih muda,” katanya mulai bercerita. “kesalahan terbesar dalam hidup saya adalah terlalu banyak berpikir. Saya dulu terobsesi memiliki bisnis internet terbesar di Bantul, kampung saya. Saya memikirkan bagaimana caranya mewujudkan obsesi itu. Saya menghabiskan bertahun-tahun memperdalam ilmu komputer. Setiap waktu yang ada saya gunakan untuk membaca buku-buku panduan bisnis atau bergabung dalam forum-forum penikmat komputer. Bahkan sebegitu terobsesinya, saya sampai memakai uang yang saya tabung bertahun-tahun untuk biaya pendidikan anak saya hanya untuk membeli satu program komputer yang harganya belasan juta. Yah, seperti kata orang, dengan niat, keuletan dan kerja keras, pasti ada hasil. Pada akhirnya saya dapat mewujudkan obsesi itu. Sekarang bisnis internet saya cukup terkenal di Bantul.”
“Kalau begitu berpikir untuk merencanakan masa depan adalah hal yang baik,” kataku mengomentari ceritanya.
Dia bergeleng, dan nada bicaranya melemas, “Justru ketika saya berpikir, yang ada dalam pikiran saya waktu itu hanyalah bagaimana tercapainya obsesi saya. Saya menyingkirkan hal-hal yang sebenarnya jauh lebih penting ketimbang obsesi itu. Keluarga. Isteri saya pelan-pelan menjauhi saya, atau mungkin sayalah yang menjauhinya. Saya tidak mengikuti perkembangan anak saya. Saya tak menyadari apa yang tengah terjadi pada mereka. Saya bahkan melewatkan pesta ulang tahun anak saya atau tak datang saat dia wisuda. Obsesi saya secara tak langsung telah membutakan saya.”
“Itu mungkin karena bapak terlalu terobsesi pada keinginan sendiri,” lancangku berucap, berkesan menggurui.
“Betul juga. Tapi yang jelas, saya banyak belajar dari pengalaman itu. Sekarang saya benar-benar mengurangi berpikir. Saya membiarkan hidup ini mengalir apa adanya, menikmatinya saja. Saya bersyukur saya belum terlambat menyelamatkan keluarga saya dari ego saya.”
“Tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu,” kataku bergumam. Aku tak bermaksud menasehatinya. Aku hanya sedang memikirkan masalahku sendiri dan masa depanku.
“Bagaimana denganmu? Apa ceritamu?”
“Maksud bapak?”
“Semua orang punya cerita. Dan, jujur saja, sepertinya kau sedang punya masalah.”
Aku bergeleng, merasa enggan berbagi masalah dengan orang yang baru kutemu beberapa menit.
“Kau sepertinya kurang menikmati hidup,” lanjutnya berasumsi. “Belajarlah dari pengalaman saya. Saya sudah tidak lagi hidup di masa lalu. Masa itu sudah lewat, dan saya sudah memaafkan diri saya sendiri. Saya juga sudah tak tertarik lagi pada masa depan. Bagi saya masa depan adalah apa yang saya lakukan di detik ini. Orang-orang yang bisa menikmati masa kini adalah orang-orang yang paling bahagia karena hidup ini adalah saat yang kita jalani sekarang ini. Bukan besok, tapi detik ini juga.”
Batinku pun menggerutu. Mudah baginya mengatakan hal semacam itu. Dia sudah melewati fase terburuk dalam hidupnya. Obsesi hidupnya sudah tercapai, meskipun katanya pengorbanannya tak sebanding. Kupikir memang sudah sewajarnya jika orang seumuran dia tak memikirkan masa depan. Dalam usianya yang bisa dikatakan ‘tinggal menghitung hari’, pasti sudah banyak hal yang dia dapat dari hidup. Wajar saja bila kini dia hanya ingin menikmati sisa-sisa hidupnya. Secara tak sadar, mungkin itulah obsesinya yang baru; menikmati masa kini. Itulah impian yang harus dia wujudkan sekarang.
Seakan mendengar suara batinku, pria tua itu kembali bicara, “Saya memahami anak muda seumuranmu pasti menghadapi banyak persoalan dalam hidup dan memiliki banyak obsesi yang ingin diraih. Itu hal yang normal. Tapi seberat apapun masalahmu, setinggi apapun impian yang ingin kau capai, jangan melupakan kenikmatan hidup di masa kini.”
Aku mengiyakan saja, enggan berdebat.
“Kau pernah mendengar cerita tentang pencarian rahasia kebahagiaan?” Dia bertanya.
Kuangkat kedua bahu. “Saya banyak mendengar cerita.”
“Saya mendapat cerita ini dari seorang biksu yang saya temui di Thailand beberapa tahun lalu. Diceritakan olehnya bahwa dulu ia pernah punya murid yang ingin mencari tahu rahasia kebahagiaan. Sang biksu menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan, bersama siapa dan dimana pun itu, rahasia kebahagiaan selalu ada disekeliling kita. Si murid tak mengerti pemahaman sang biksu dan meminta diberikan contoh kongkret. Namun sang biksu mengatakan padanya bahwa rahasia itu tidak dapat dijabarkan dalam sehari saja. Karena si murid ini merupakan pendatang baru di desa tersebut, maka sang biksu menyuruh si murid ini bersantai-santai sejenak mengelilingi desa, dan kembali dalam satu jam. Sebagai tugas, si murid diminta membawa serta seekor anak anjing untuk menemaninya dengan syarat anak anjing itu tidak boleh digendong dan tidak boleh hilang di perjalanan sampai kembali nanti.
Anak muda itupun mulai berkeliling-keliling dan keluar-masuk gang. Tapi sebisa mungkin ia menghindari keramaian agar memudahkannya menggiring si anak anjing. Berselang setengah jam, dia sudah kembali lagi ke Temple Phang Ok dimana sang biksu bermukim. Lantas, sang biksu menanyakan apakah si murid melihat barang yang dijual seorang pedagang di salah satu persimpangan jalan, atau apa yang dikerumuni orang di pasar, atau bagaimana pemandangan kota saat senja. Namun si murid tak menjawab. Ia mengakui bahwa dia tak sempat memerhatikan apapun. Dia terlalu fokus pada usahanya menjaga anak anjing agar tidak hilang.
Sang biksu pun memberikan tugas baru. Ia meminta si murid mengulangi rute yang dilewatinya tadi, dengan catatan ia harus mengamati apapun yang ada di sekitarnya. Merasa lega, si murid segera mengajak anak anjing yang sama dan kembali menjelajahi kota. Kali ini ia menyempatkan berhenti di pasar, menyapa beberapa orang dan singgah di beberapa kios pedagang. Dia juga menikmati pesona senja desa itu. Dia melihat bunga-bunga yang bermekaran di taman kota, kabut-kabut yang turun dari gunung, serta apapun cita rasa yang terpancar dari segala sesuatu di desa itu.
Alhasil, si murid jadi lupa waktu, dan baru kembali hampir dua jam sesudahnya. Saat itu hari sudah gelap dan sang biksu sedang menyiapkan makan malam. Si murid diminta menceritakan pengalamannya dalam santap malam. Dengan antusias, dijabarkanlah hal-hal menarik yang didapatnya selama menjelajahi kota. Namun ketika sang biksu menanyakan kemana anak anjing yang bersamanya dalam perjalanan tadi, si murid terkejut saat menyadari entah kemana anak anjing itu. Ia bahkan tak ingat bahwa tadi ia berjalan bersama anak anjing.
Maka, dengan kerendahan hati, sang biksu pun berkata, “Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal yang menakjubkan di dunia ini, tanpa pernah melupakan apa atau siapa yang kau bawa serta di sepanjang perjalanan.””
Aku cukup terpukau mendengar cerita semacam ini keluar dari mulut orang yang tak kukenal. Tak pernah terbesit dalam pikiranku mendapatkan pengalaman ini.
“Jadi sekarang kau sudah tahu apa rahasia kebahagiaan?” tanya pria tua itu sambil memasukkan bungkus rokoknya ke saku kemeja.
“Menjalani hidup bersama orang-orang yang dicintai dan melakukan hal-hal yang dicintai,” jawabku seadanya, berdasarkan apa yang kutahu.
“Betul. Namun mencari kebahagiaan dalam hidup ini seharusnya tidak menjadi tujuan hidup seseorang karena kebahagiaan itu sebenarnya sudah datang. Saat ini, detik ini, adalah sebuah kebahagiaan. Semuanya hanya tergantung dari apa yang kau ingin rasakan di detik ini juga. Kebahagiaan adalah sebuah pilihan di masa kini, bukan masa depan. Maka, fungsikanlah seluruh panca indera-mu dan rasakanlah kebahagiaan detik ini juga.”
Masih lekat dalam ingatanku percakapan di senja dua tahun silam itu. Dan lihatlah diriku sekarang. Hidupku amat berkecukupan, aku amat mencintai isteriku yang baru melahirkan anak pertamaku enam bulan lalu, hubunganku dengan kedua kakakku kian membaik, dan pekerjaanku adalah hobiku. Aku memiliki semua hal yang kuinginkan. Dan yang terpenting adalah aku bahagia menjalani hidup ini. Masa depan akan selalu menjadi tanda tanya bagiku atau siapapun. Namun, rahasia kebahagiaan telah tergenggam erat dalam kepalanku. Aku tinggal menikmatinya saja.  

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered! (dengan tulisan The Bay Bali yang di link ke website: www.thebaybali.com).

June 9, 2003

Posted: April 12, 2014 in sethlestath

I sense something horrible is coming. And it gets stronger everytime I breathe. Is it the pain that I felt, or the fear that I must face? Or is it just a temporary illness inside these beautiful thoughts? My conscience running around playing God with me. My mouth sealed tight for I can no longer speak. Must I render down to the ground?

 

www.sethlestath.com

May 28, 2003

Posted: April 3, 2014 in sethlestath

Looking back the day He took her, reborn all the nightmares through the night. Hoping it was just a dream. “Wake up! Wake up from this nightmare.“ Still she’s lying in the coffin of orchid. My life has ended along with the smile of hers. It’ll never be the same anymore.

May 1, 2003

Posted: March 30, 2014 in sethlestath

Every night… the same dream, the same strange situation. But why? What are they tryin’ to tell me? Have they won already? I convince that these dreams are some form of communication. The message is still confusing me. But the impact has grown stronger. I believe my dreams hold the key. So let the dreams begin.

March 16, 2003

Posted: March 30, 2014 in sethlestath

Do you know what love is? People assuring themselves they’re in love. But they’re not exactly. When you’re falling in love it is a temporary madness. It erupts like an earthquake, and then it subsides. And when it subsides you have to make decision. You have to work out whether your roots have become so in-twine together that it isn’t separate why you should’ve apart. Because that what love is. Love is not a breathless insanity, not excitement. It’s not a desire to make every second of the day, do not lying at night imagining he/she is kissing every part of your body. No. It’s not that. But let me tell you something. It is true smile describes the feeling of love, which any of us feels it. But love itself is what it’s left over, when being in love has burn away. Doesn’t sound very exciting, does it? But it does. For a thousand miles I’ve been followed the path of love, for a billion beauties I’ve known, there’s only a single soul represent love. Rika’s. It was a love that I felt after I lost her. That was love.

April 10, 2003

Posted: March 20, 2014 in sethlestath

The curse strikes back, more powerful than before. This time they’re haunting my father to death. It’s been 3 years since they arrived into my life, and not a day passes without fear. They forced me to live in it. I have vowed to end this fear. But the more I try the stronger they become. And they’re comin’ faster now, and that can only one thing; the curse is beginning to win.

March 21, 2003

Posted: March 16, 2014 in sethlestath

Talking about marriage is talking about huge changes. And when you do, you’re taking a giant step in your life. And things would become complex. Marriage is about responsibility. A responsible to support your child, your wife, and of course yourself. You have a responsible for their needs; their happiness; their life. Spooky isn’t it? Some people think marriage is a must. “We have to create a new generation,” they said. Part of me found it hard to accept it, but they’re right. A new generation to continue the kingdom. But I don’t know, maybe the whole idea about marriage is nonsense. I mean marriage is not always about love. If so, what’s the point of marriage then? Well I don’t know what the point of it is. But I do know I believe in soul mate. I do believe we’re meant for somebody somewhere. But somewhere is large, and we’re not being able to search every inch of it, do we? So I don’t believe we’re gonna end up with our soul mate. But how wonderful life is if someone found one?